

my hand’s fully written with love overwhelming in my heart. It shud be a strong proof or do u still want to see me naked?

this is the silly me. i was totally shocked n stunned when i turned on my mini netbook. then it came into alive, the desktop wallpaper, the Avatar. the blue creature of the Navi. so irresistable to see.
what i was going to tell u today is i feel a lot better, i think i’ve found my self in a half of a good shape. seriously, i feel i have retrieved my health back, fully recovered. it’s just that some nerves are just not quite well cooperated, u know the final stage of gaining the fullest physical fitness.
haha! when i was typing this text, my big sist called me. she asked what food i wanted to eat now, she also asked whether i wud like to go seeing the doctor again. but i feel that i dont need to do that, it’s not necessary. thank u a bunch, sist…what i really need to see now is just to see u happy n alive. we are pursuing what we’ve dreamt all along.
i dont have that much to say, i just want to tumblr down and find any fresh ideas thru online browsing. i’m going to have my official internship on 4th Jan, 2010. on next Monday i have to make self-report to the People group department concerning my ID card n bank account, yea, i can smell the sweat and money as well. hehehehehe….
guess it’s done for now. i feel so light. so light. see you round!


At first, really, when i saw the trailer of Avatar i got a kind of feeling that this was going to be as imaginative as Harry Potter n friends. u know, the shallow story n friendship values we must cherish. it has great picture effect and i was once interested to see it. but then again, it came across my mind “u are not sooooo gonna watch this, alfi! it’s just too so-so movie with some special effect n some imagination.”
Until today, i decided to watch this movie because of some recommendations that people tweeted or just updated their status. it’s so positive. i found my curiosity was lit. yea, i cant be remorseful for this. no regret. no repent. true.
it was all started when jake sully was invited to join a program named “avatar” to control a native-body-like Navi tribe. they lived in planet named Pandora. they have deity they believe their ancestors were still alive inside, a sacred tree. an enormous one. under the ground where the sacred tree was standing firm, there were priceless materials which were highly priced by the earth inhabitants. the earth party believed they cud reallocate the Navi to another place and felt free to explore the mining there. and to exploit as well. unfortunately, jake sully was caught in the middle. he was sent to infiltrate the Navi territory and strived to find a diplomatic way so that the Navi be willingly to leave the sacred tree and barter the goods we thought they wud need it. in the meantime, as he went further to know what was it like to be the real Navi, he hooked up Neytiri, a native lady from Pandora and designated to be the next Goddess there with assigned Man from the Navi. he fell in love with her and so did she. it was just so interesting that the Man let her go with jake without any drama-queen scenes. and the story went as u might have guessed. the story was pure simple and real, just like what we’re used to living here, on earth. what made this movie moving and inviting was the spirit that hardly die despite of the enemy’s strong arms. they didnt give upon their ancestors, their history, their faith. they heard what their conscience whispered thru their subconscious mind.
At the major resolution, i was like i cud scream along with the Navi to burn the spirit of pursuit of liberty. this is our land. this is our homeland. when u know it is the place with high morality and filled with norms, u know it is the highest courteousness. u cant exchange these values with money or any treasure or high-end defense. it is formed in continuous process within the people, every man, interact and assimilate in creating a culture. to build trust. to transform any differences into faith, we are one, come what may.
hopefully the love for our homeland will remain the same as we believe at the very beginning in our being sober that we defend our dignity.

saya sebagai mahasiswa, sebagai rakyat biasa, sebagai seorang wanita 21 tahun, yang lahir dari keluarga serba biasa, tanpa ada prestasi mendunia, merasa ada yang mengganjal dengan kejadian akhir-akhir ini khususnya di panggung media massa. kita sedang sibuk dengan masalah century, luna maya, prita, PLN, dan sebagainya. tapi saya tidak melihat adanya sinergi yang timbul dari berbagai upaya untuk menyelesaikan apa yang dianggap menjadi persoalan.
saya tidak akan menghakimi, ini hanya masalah preferensi, bukan benar atau salah. ketika masyarakat Indonesia lebih suka marah-marah, aksi, dan demo besar-besaran atau sebesar-besarnya hanya karena tersulut headline HOT dari ranah politik dan berbau korupsi, semuanya ditumpahkan ke jalanan. tiba-tiba kita menjadi beringas, seolah tidak mengenal kata ampun bagi siapa saja yang DIDUGA bersalah. tiba-tiba kita seperti menjelmakan diri sebagai malaikat, ‘saya benar dan suci, yang lain salah.’
ada apa denganmu, Indonesia? lelahkah kalian menjadi bagian dari masyarakat ini? sudah muakkah kalian dengan persoalan ibunda pertiwi ini? tidak mau tahu lagi hanya ingin meluapkan semuanya dengan amarah dan berharap-harap akan mendapatkan hasil yang diinginkan?
saya tidak menyalahkan demo/aksi mahasiswa/masyarakat umum, sekali lagi ini hanya masalah preferensi. ketika kita lebih memilih demo, dewasa ini, di tahun 2009 ini, di bumi yang makin tua ini, saya tidak melihat banyak manfaat dan perubahan signifikan yang sangat fundamental di negara kita tercinta. masih ‘begini-begini’ saja. cara para pecatur pemerintah memainkan pionnya masih saja tidak cerdas dan strategis. saya ingin berbagi kepada teman-teman semua, kenapa saya tidak suka dengan demo/aksi. ini dia alasannya:
tidak peduli sebagaimana dahsyatnya demo yang dilakukan saat ini, demi tujuan apa pun, menurut saya tidak efektif. mana??? teman2 kita berkoar kepada pemerintah yang mereka anggap zalim, tapi nyatanya ya begini terus kita. masih saja ada korup. seperti tweet seorang public figure yang menyatakan, mungkin kita bisa membasmi koruptor, tapi tidak korupsinya. saya hanya menganggap demo/aksi itu efektif jika mampu menggulingkan rezim pemerintahan yang ada seperti yang terjadi sekitar 1998an lalu. ketika masyarakat secara kolektif benar-benar jengah dengan segala sesuatu yang ada ketika itu. berharap membawa perubahan. agent of change. 12 tahun silam. sekarang? berbedakah? jika ya, apakah lebih baik? lebih buruk? tergantung dari persepsi anda.
di universitas tempat saya menimba ilmu, ketika kasus century masih pada tahap awal pemberitaan, ada sekelompok mahasiswa yang mengadakan demo/aksi terkait dengan kasus itu. lalu saya bertanya dalam hati, begitu cepat sekali mereka menghakimi dengan orasi-orasi yang dibuat setajam dan seidealis mungkin. dibuat seolah-olah sudah pasti salah apa/siapa yang ketika itu masih diduga salah. begitu cepat mereka menyatukan kelompok mereka yang dianggap satu visi, atau sekadar ‘permisi, yang penting saya ikut aksi’, menyewa bis atau naik motor menuju tempat demo. ya, memang. mereka telah melaporkan kegiatan tersebut kepada polisi. tertib. memang. lalu? sejam, dua jam, seharian, seminggu, berbulan-bulan. tak satu pun tuntutan mereka yang benar-benar diindahkan oleh pihak yang didemo. lalu kita malas membaca. kita tidak mau tahu atau malas mau tahu informasi utuh atas kejadian yang menjadi isu sentral ketika itu. kita malas. kita cuma mau yang penting aksi dulu. dan lagi-lagi mengatasnamakan rakyat macam infotainment. masyarakat berhak untuk tahu. mas, mbak, seandainya anda semua merealokasi waktu, tenaga, dan biaya untuk demo tersebut dengan membentuk atau partisipasi dalam sekolah non formal atau mengajar di bimbingan belajar, saya yakin akan lebih banyak manfaatnya. mungkin tidak sekarang, tidak besok, tidak setahun lagi, mungkin 10 tahun lagi. tapi anda semua dapat membentuk persepsi masyarakat agar menjadi lebih cerdas, lebih pandai melihat mana yang mendekati benar, mana yang mendekati salah. di antara waktu anda mengajar, selipkanlah cerita pendek mengenai keadaan negeri yang elok ini, apa yang bisa mereka perbuat untuk ke depannya. kontribusi apa yang bisa mereka berikan demi terwujudnya Indonesia yang aman, damai, dan makmur. anda bisa menanamkan benih2 cinta Indonesia ke hati para pemuda bangsa yang masih lugu itu. agar mereka berani menegakkan kepala mereka ketika mereka ditanya dari negara mana mereka berasal, “Indonesia!” Tanpa anda sadari, terkadang demo itu sendiri seperti membawa pesan eksternal “Indonesia korup akut. tidak bisa sembuh. semua pejabat pemerintah itu kotor. semua politikus itu kotor.” dan lain sebagainya yang makin menjauhkan rasa cinta pada bangsa sendiri.
percayalah kawan, setertib apa pun demo yang kita lakukan pasti akan menimbulkan macet. hujan saja bikin macet padahal hujan hanyalah zat cair yang bisa dilewati dengan mudah dan mengalir tidak menghalangi kendaraan seperti segerombolan manusia yang teriak nganu-nganu tapi tidak manfaat. mungkin orasinya benar, orasinya logis, tapi tidak memberikan manfaat nyata. jadi percuma. demo/aksinya hanya sperti pemeriah suasana yang memang sudah kacau balau. media saja yang girang karena bisa menekankan pemberitaan tertentu dengan adanya demo ini. ayolah kawan. kita cari cara yang benar2 efektif, benar2 manfaat, dan tidak menyakiti hak2 orang lain. berapa banyak kiriman barang yang harus tertunda gara2 macet ada demo? berapa banyak deal perusahaan yang harus gagal cuma gara2 macet beginian? berapa banyak kegiatan perekonomian masyarakat yang harus terhenti gara2 anda sibuk teriak koruptor tor tor tor padahal anak2 para sopir angkot yang terjebak macet itu menanti bapaknya pulang supaya bisa makan. kita tidak mau tahu. kita tidak mau melihat lebih luas. kita suka kacamata kuda. yang penting kita, yang penting aksi.
ya ya, saya lihat sepertinya niat para mahasiswa/masyarakat umum itu tulus ketika demo. saya yakin di antara mereka benar2 ada yang idealis dan merealisasikannya secara nyata. tapi yang namanya mata itu tidak bisa dibohongi. saya lihat mereka mengendarai motor tanpa helm standar atau helmnya berbahan dari kain (mungkin kainnya sakti kali). saya juga tidak yakin apakah mereka cukup tertib di jalan menuju TKP. anda menuntut orang lain untuk benar tapi anda tidak mencontohkan yang benar. tidak perlu dari hal2 besar. dari bentuk perilaku yang paling kecil seperti menaati tata tertib lalu lintas saja anda sudah bisa memberikan teladan bagi yang lain. yang ada di jalanan. siapa tahu ada pejabat yang melihat anda. lalu siapa tahu hidayah Allah turun ketika ia melihat bagaimana masyarakat yang dipimpinnya ini begitu taat pada peraturan lalu lintas sehingga membuat dirinya malu dan menjauhi kemungkaran. tidak ada yang tahu, saudara! kejujuran anda mengembalikan uang kembalian yang berlebih mungkin bisa berujung pada satu perubahan besar yang mendasar di dalam masyarakat kita ini. tapi sekarang mau bagaimana berharap yang demikian-demikian itu jika anda justru menunjukkan sifat2 kontradiktif yang tidak memberikan teladan secara utuh kepada siapa pun yang melihat anda atau pihak yang anda demo. siapa yang mau berempati? siapa yang mau peduli klo anak bangsanya sendiri tidak menyayangi negaranya sendiri? berpikirlah lagi para pemuda bangsa.
saya jadi agak takut membayangkan seandainya apa yang saya imajinasikan ini benar2 terjadi bahwasanya demo lebih merupakan candu daripada alat penyeimbang dalam komunitas. apakah kita terlalu berharap pada demo karena sempat meraih sukses dengan menggulingkan suatu pemerintahan dulu? sehingga tidak terpikirkan cara2 lain yang lebih efisien dan efektif untuk menyuarakan kebenaran. idealisme itu itu ibarat harta karun dan realisasinya adalah petanya sendiri. tapi percuma klo ternyata idealisme itu sudah tidak laku lagi, sudah tidak seberharga dulu lagi di mata masyarakat. yang kita perlukan adalah membentuk kepercayaan masayakarat kembali bahwa idealisme itu masih ada dan masih dapat diwujudkan. bagaimana? saat ini yang menjadi kunci utama adalah membentuk opini atau tendensi masyarakat. bagaimana? dengan cara menuliskan pikiran anda dalam berbagai surat kabar, facebook, twitter, livejournal, blogspot, wordpress, dan lain sebagainya yang menurut saya, sekali lagi menurut preferensi saya, jauh lebih efektif dan efisien ketimbang dengan demo. melalui tulisan anda, anda mampu memberitahukan kebenaran secara berimbang. saya memang agak kecewa dengan media massa yang terkadang menyampaikan pemberitaan yang tidak berimbang. tapi itu semua tiba2 jadi tidak merisaukan hati saya lagi ketika saya membaca berbagai macam tulisan yang memuat opini, pendapat, kritik (beretika/tidak) namun dari berbagai macam sudut pandang. berimbang! tulisan ini mungkin ada di salah satu blog atau status yang anda tulis. baik itu yang sudah pakar, orang awam, orang yang sekadar berpendapat, semuanya dapat memberikan pandangan atas idealisme yang ada di dalam diri mereka dan menularkannya kepada siapa saja yang membaca tulisannya. sebelum anda membulatkan tekat dan minum minuman penambah tenaga, istighfar dulu, duduklah, dinginkan kepala anda. nyalakan komputer anda, cari pulpen anda, dan tuliskan. tuliskan semua yang ada di dalam kepala anda. berikan argument yang kuat. agar dapat membuka mata hati dan pikiran siapa saja yang membacanya. tidak bikin macet dan anda mudah untuk melaksanakan ibadah fardhu.
saya yakin masih ada berbagai macam cara lain dalam menyebarluaskan kebenaran. hanya saja kita jangan terpaku dengan satu cara yang sudah populer. jadilah penemu! bukan peniru! ingat, dengan cost yang lebih sedikit kita harus bisa mendapatkan return yang lebih besar. itu baru namanya perubahan! agent of change! sekarang semuanya terserah pada diri teman2 sekalian. kita bantu cerdaskan masyarakat kita atau kita buntukan kecerdasan mereka.

copy-pasting the meaning: when things go wrong, both sides are involved and neither side is completely innocent.